Minggu, 02 Januari 2011

kriteria gadis tomboy versi saya

   Tomboy bukanlah penyakit atau kelainan, melainkan ciri khas seorang gadis, karena gadis tomboy masih menyebut dirinya perempuan. Jika ia mengatakan dirinya bukan perempuan, kelainan. Sebagian orang berpendapat bahwa tomboy bersifat negative karena gadis yang tidak menerima kodratnya.

                Berikut ciri-ciri gadis tomboy versi Sayyidatunnisa’:
  • Bertingkah seperti lelaki
  • Jarang bahkan tidak pernah memakai rok ataupun pakaian wanita
  • Mempunyai banyak teman laki-laki yang bukan kekasihnya
  • Agak kasar bicaranya, tapi ia bukan orang kasar
  • Biasanya bersikap acuh tak acuh  walau sebenarnya peduli
  • Memiliki gaya tersendiri baik bicara, berjalan, berpakain.
  • Jarang berpikir dan bersikap serius
  • Cerewet tapi tidak jutek
  • Tidak berpikiran untuk memiliki seorang kekasih walau ada lelaki yang dicintainya
Kurang lebihnya begitulah menurut pengamatanku. Tapi perlu diketahui bahwa saya menulis catatan ini hanya sekedar iseng.

kocar-kacir dictionary

abang
merah, mas/kangmas

arang
jarang, areng

awak
badan, wong kang kerja ana njero kendaraan

awan
siang, mega

badan
awak/sarira, sungkem

duduk
lungguh/lenggah/pinarak, gali/menggali

ganda
ora mung siji, bau/aroma

jangan
sayur, ojo 

larang
mahal, gak entuk

lemah
tanah, lesu

kali
sungai, ping

mandi
manjur, adus/siram

mau
arep/ajeng/badhe, gelem, tadi

omah
rumah, simbah/embah/eyang

siram
mandi, gebyur

tangga
tetangga, ondo


berapa

X: penjual
Y: pembeli

X: “jeruk jeruk, jeruk manis!”
Y: “boleh juga jeruknya. Berapa ini?” (memegang satu buah jeruk)
X: “satu”
Y: “lho kok satu?”
X: “jeruk yang anda pegang kan cuma satu.”
Y: “maksud saya harganya.”
X: “berapa?”
Y: “lho malah tanya saya?”
X: “ya saya nanya, berapa. Satu buah, satu kilogram, dua kilogram, atau berapa?”
Y: “berapa.”
X: “lho kok malah nanya gitu?”
Y: “anda kan bertanya, satu buah, satu kilogram, dua kilogram, atau berapa. Lha saya milih berapa.”
X: “ah ya sudah lah, pusing saya, anda mau beli berapa?”
Y: “saya juga pusing, gak jadi beli.”
X: “ahh gimana sih……..?

tips panjang umur

Hai hai hai hai
Ada tips nih……..
Tips panjang umur,
Caranya mudah, tak perlu sms, tak perlu ketik reg, tak perlu uang, hanya butuh dua orang.
Udah bisa bayangin?
Nah, gini nih:
Minta dua orang berada di suatu tempat untuk membicarakanmu. Sementara mereka membicarakanmu, datanglah ke tempat mereka ngobrol.
Nah, sudah.
Panjang umur deh……..
Mudah bukan?


penjumlahan

Satu + Sembilan = sepuluh
Dua + Delapan = sepuluh
Tiga + Tujuh = sepuluh
Empat + Enam = sepuluh
Lima + Lima = sepuluh

ada satu hal yang membuatku kagum.

..........?

  Dulu saat pertama kali aku bertemu dengannya, kuanggap ia biasa saja. Kuanggap ia seperti yang lainnya. Bahkan tidak ada kata tertarik dariku untuknya. Rasaku sama dengan yang lainnya. Tapi lain dengan sekarang.
                Seiring berjalannya hari, rasaku makin berubah. Berawal saat aku dan dia dipertemukan secara khusus. Saat itu aku mengenalnya lebih jauh, dan saat itu juga aku jatuh cinta padanya. Ternyata ia memiliki pesona yang luar biasa bagiku. Tergila-gila aku.
                Ia memang menarik, tapi banyak masalah. Pun seakan menyengatku untuk menyelesaikan masalah-masalahnya yang kian banyak itu. Walupun tak semua bisa aku selesaikan. Dan, masalah itu hampir bisa dibilang lelucon. Apa? Lelucon? Iya.
                Ah, tidak.
                Tidak. Itu tidak kendala untuk aku tetap mengkaguminya. Hidup lebih berwarna dengannya. Berwarna. Ya. Bahagia, bangga, pusing, bingung karena masalah-masalahnya yang bisa dibilang rumit itu. Tapi ia telah mengantarku sampai di sini, sampai kini, dan sampai esok, esok lagi, sampai berakhirnya deru nafas ini. *lebuy
                Aku mengkaguminya.
                Aku mencintainya.
                It’s not someone, but something. Math.


caping gunung

ketika masa berjuang
pun teringat putra lelaki
dulu aku rawat
namun sekarang, entah di mana

kudengar telah sukses
terwujud yang diimpikan
dulu terucap janji
namun sekarang, apa lupa

di gunung aku sediakan nasi jagung
ketika mendung aku pinjami caping gunung

syukur jika bisa menyaksikan
gunung dan desa semakin ramai
takkan hilang
perjuangan bersama nan susah payah



*terjemahan syair lagu "caping gunung" - gesang

petualangan ala nisa'


Kha... aku berada di hutan. Hutan apaan nggak tau. Denger-denger di utara sana ada pemukiman. Jalan ke utara aja ah... jauh banget. Hah, mentari mulai melangkah ke peraduan. *(sok puitis...)
            Malam. Masih aku berjalan. Sepertinya di sana ada pesta. Aku perhatikan betul-betul. Benar, ada pesta. Hah? Itu kan istana sang pangeran. Siapa tu wanita lari-lari? Cinderella?
            Eh... eh... Non Cinderella... sepatu kacanya yang sebelah ketinggalan, sayang banget sepatu bagus-bagus ditinggal. Mending kasih aja sama aku, sepasang tapi. *(hehe...) dari sini aku bisa tau waktu: jam 12 tengah malam. Huh... pagi masih lama.
            Kasihan pangeran, ditinggal Cinderella. Aku menghampirinya. Waah... ternyata ni pangeran emang ganteng, tajir lagi. Pantes...
            Sudahlah... pangeran tenang aja, pasti suatu saat ketemu lagi ma Cinderella. Tu sepatunya ketinggalan. Ya sudah, saya mau jalan lagi. Pangeran, pangeran, ganteng banget seh.
            Tak terasa sudah pagi. Aku tetap berjalan. Ternyata ni tempat deket pantai tho. Ke pantai ah... di sana ada wanita tua dan pemuda. Hmm, pasti itu Malin Kundang dan emaknya. Aku hampiri ah... permisi, ini Malin Kundang ama emaknya kan? Pasti Malin mau merantau. Kasian sang emak ditinggal. Emak siap-siap aja... Malin bakal durhaka... bikin rencana ya mak... ntar si Malin dikutuk jadi apa. *(sotoy+alay...)
            Kapal Malin Kundang pun berlalu. Aku mau ke mana lagi ya... panas juga di pantai. Cari air ah... hei, di sana ada air terjun mini, ada telaga juga. Ke sana ah... Sebelum aku sampai telaga... wow... tuju bidadari... ah, ini pasti kisah Jaka Tarub. Benar... di balik pohon ada seorang pemuda yang lagaknya seperti sedang ngintip, *(orang beneran ngintip kok...) aku hampiri. Mas, mas, mas Jaka Tarub ya... mau nyuri selendang ya... yang warna pink aja, bagus. Dicuri dah tu selendang. Emm.. mbak bidadari cantik-cantik ya, *(ya iya lah, namanya juga bidadari...) mbak, satu selendang hilang tuh... kasihan banget yang kehilangan selendang, kasih tau nggak ya selendangnya di mana... nggak usah ah, ntar ceritanya malah berubah...
            Haaah... *(ekspresi capek) Cinderella udah, Malin Kundang udah, Jaka Tarub udah, apa lagi ya... jalan lagi ah... eh, ada sungai, jernih. There’s a girl is washing the clothes. Biar aku tebak lagi, itu Bawang Putih. Hai Bawang Putih... lagi nyuci ya...? *(pake nanya lagi, orang jelas-jelas lagi nyuci...) udah ketemu ikan mas ajaib yang bisa ngomong belom? *(khekhe...) ya uah deh, aku jalan dulu ya...
            Capek banget. Bingung, sebenarnya aku tu di mana dan mau ke mana. Bodo’ ahh... go... jalan lagi...
            Entah berapa lama aku berjalan. Ha... itu kan istana pangeran, sampai lagi dah di sini... ooh... so sweet... Cinderella dan pangeran dah bersatu... ooh... selamat dah buat kalian.
            Pengen banget liat si emak ngutuk Malin Kundang. tapi ngrasa ngeri aku. Males ah...
            Loh... di langit, terbang... itu kan bidadari... ooh, dah nemu selendangnya yang dicuri Jaka Tarub yaah...
            Ada satu ending lagi, Bawang Merah dan Bawang Putih... sana ahh... jangan sampai kelewatan, kan happy ending. *(heheh...)
            Sukurin Bawang Merah nggak kuat ncabut pohon emas... Bawang Putih... tu bisa ncabutnya... yaak... bahagialah Bawang Putih...
            Selesai dah... ke mana lagi ya...

pendapat teman


“Menurut kalian, orang pintar dengan orang cerdas itu sama apa beda? Jika beda, apa bedanya?”


Arini Septiya Eszri:
Kata Mbak Sonya sama Mbak Priska sih gini: kalau pintar itu lebih menjurus sama satu hal, tapi kalau cerdas itu lebih ke semuanya. Tapi orang cerdas belum tentu pintar, misalnya si A bisa dikatakan pintar nari, bukan cerdas nari. Gitu kali yee...

Lutfiana Armadiani:
Apa ya? Kalo menurut bahasa sih, pintar dan cerdas artinya artinya sama. Tapi kalau istilah sih lumayan berbeda. Kalau orang pintar itu pintar dalam bidang mapel, ilmu sosial, dll. Tapi kalau orang cerdas itu mengacu pada kecerdasan mapel, psikis, emosional. Tapi kurang tau juga ya, pendapatku itu bener atau nggak.

Silvia Peggy Fajaratih:
Beda. Bedanya yaitu tulisannya.

Anggi Novita Sari:
Orang pintar belum tentu cerdas, orang cerdas sudah pasti pintar. Maaf, cuma asal-asalan.

Nurul Anggraeni:
Beda. Menurutku orang pintar belum tentu cerdas, tapi orang cerdas pasti pintar. Karena menurut pendapatku, cerdas merupakan metamorfose dari pintar.

Aris Kristianto:
Aku njawab sama aja kalau gitu.

Maya Kumala Sari:
Beda. Cerdas itu sudah dari lahir, bisa dari keturunan. Kalo pintar kita bisa mengasah otak kita supaya jadi pintar. Jadi, semua orang bisa jadi pintar. Mungkin.

Nur Wahidatun Ni’matun Hasanah:
Orang pintar belum tentu cerdas. Tapi orang cerdas pasti pintar.

Arnita Prasintaningrum:
Beda. Pintar itu karena rajin belajar, jadi kalau nggak rajin belajar nggak bisa pintar. Kalau cerdas itu sudah ‘gawan bayi’, jadi kalau nggak rajin belajar, orang cerdas tetap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan logika. Jadi cerdas + rajin = pintar. Tapi pintar belum tentu cerdas.

Nurdiana Rahmawati:
Kalau menurut aku sih beda. Karena orang pintar itu bisa dari dia tekun dan mau belajar giat, seseorang bisa menjadi pintar. Tapi kalau cerdas itu natural karunia Tuhan.

Nita Hafsah Maulina:
Beda. Orang cerdas sudah tentu pintar, tapi orang pintar belum tentu cerdas. Kalau pintar hanya beberapa materi saja, kalau cerdas hampir semuanya dan cara bicaranya juga.

Itabella Kurniasari:
Jawabannya ngutang dulu. Kalau sudah ketemu baru aku bayar. Kalau lupa ya nggak usah aku bayar.

Muhammad Nurun Shofi:
Beda. Kalau pinter belum tentu cerdas. Tapi kalau cerdas mungkin dia pinter.

Charles Johan Ignasias:
Beda hurufnya.

Dian Mariana Ulfa:
Pintar itu bisa pintar berbohong, pintar ingkar janji, pokoknya ada hal-hal yang negatif. Kalau cerdas itu dalam hal pintar yang sesungguhnya, pintar pelajaran, pintar-pintar yang positif. Tapi itu menurutku lho.

Nindia Noor Indah:
Menurutku beda. Bedanya, kalau orang pintar itu belum tentu bisa melakukan apa yang ia tidak bisa (belum tentu bisa menemukan pemecahan terhadap masalah yang ia hadapi). Tapi kalau orang cerdas itu bisa mencari solusi terhadap hal-hal yang ia tidak bisa dan selalu berusaha menemukan pemecahan terhadap suatu persoalan yang dihadapinya. Kesimpulannya: orang pintar belum tentu bisa, tapi kalau orang cerdas insyaallah bisa.

Trivena Ella Yuliani:
Kalau pintar hanya mahir dalam satu bidang. Tapi kalau cerdas mahir dalam semua hal.

Husnun Nadiatis Soba:
Apa ya? Mboh, bingung aku.

Erlin Mega Priliani:
Beda. Orang cerdas itu nggak pintar. Orang pintar nggak cerdas.

Seka Ayu Priastuti:
Beda. Kalau menurutku pinter itu belum tentu cerdas, cerdas juga belum pasti pintar. Pintar itu masalahnya kan dalam pelajaran sekolah. Kalau cerdas itu dalam hal rakit-merakit atau apa yang membutuhkan ketrampilan.

Dwi Pratiwi:
Pintar karena belajar. Cerdas karena paham.

Riris Purnalita:
Pintar itu karena faktor eksternal. Kalau cerdas karena faktor internal.

Meilisa:
Beda. Cerdas lebih bersifat bawaan. Tapi kalau pintar itu bisa dibentuk. Orang cerdas pasti pintar. Tapi orang pintar belum tentu cerdas. Mungkin. Itu pendapat saya.

Kristian Adi Prabowo:
Beda. Bedanya pintar hanya untuk beberapa aspek. Kalau cerdas mencakup semua aspek.
Yogi Budi Utami:
Orang pintar itu karena belajar, orang cerdas karena dari sononya.

Sike Siana:
Kalau menurutku: kalau cerdas = aktif disertai dengan kreatif. Kalau pintar hanya membutuhkan suatu pemahaman dan ketelitian.

Ang Ester Verawati:
Menurutku orang pintar itu dalam semua bidang dan pusatnya nggak mesti otak. Tapi kalau orang cerdas butuh berulang kali latihan dan pusat pusat pemikirannya otak, dan dalam bidang tertentu saja. Juga tulisan dan bacanya berbeda.

Mudita Gunawan:
Orang cerdas pasti pintar. Orang pintar tidak selalu cerdas.

Gianina Dinda Pamungkas:
Orang pintar berprestasi karena rajin, kalau orang cerdas karena ulet dan memang bawaan.

Yanuar Ramadhan:
Pintar lebih mengarah ke intelektual, sedangkan cerdas mengarah ke emosi dan spiritual. Makanya orang pintar IQ-nya tinggi, sedangkan orang cerdas ESQ-nya tinggi.

Muhammad Naufal:
Kalau orang pintar = PINTAR
Kalau orang cerdas = CERDAS

Ibrahim Amir:
Orang pintar sinonim dukun, orang cerdas bukan sinonim dukun.

Wardiman Hacky:
Orang cerdas selalu belajar dari pengalaman. Sedangkan orang pintar sukanya minum ‘tolak angin’. Orang jaman dulu suka perang. Kalau orangutan sukanya bergelantungan di pohon. Orang gila kayaknya suka tiduran di jalan.

Chalvin Polpan:
Cerdas: pandai dan cepat dalam memahami.
Pintar: pandai dan cepat dalam berpikir dan melakukan.

Om Bagoes Soekardi:
Orang pintar di kebudayaan Indonesia sering dikaitkan dengan dukun. Sedangkan orang cerdas sering dikaitkan dengan orang yang berpendidikan.

Cravate Lapin:
Sama artinya dalam bahasa Inggris: smart.

Muhammad Irfan Maulana:
Orang pintar belum tentu cerdas. Tapi orang cerdas pasti pintar.






Menurut saya, perbedaan orang cerdas dan orang tidak cerdas terletak pada pola pikir mereka. Mengapa saya bilang orang tidak cerdas, bukan orang pintar? Karena orang pintar juga ada yang cerdas. Tapi saya tidak berani bilang ‘orang cerdas pasti pintar dan orang pintar belum tentu cerdas’. Saya kurang yakin akan benarnya pernyataan tersebut. Juga, kecerdasan sulit dibentuk, sedangkan pintar bisa dan mungkin mudah dibentuk.
Menurut saya juga, orang cerdas terobsesi untuk mencari dan menemukan solusi terhadap setiap permasalahan, apalagi permasalahan yang sangat rumit.

hanya sebuah kisah


Adalah kisah seorang anak laki-laki yang tegar. Ia hidup di pesisir pantai bersama orang-orang yang dicintainya. Tapi itu dulu. Tidak dengan sekarang. Tuhan telah mengambil orang yang dicintainya saat ia baru berusia dua tahun. Ayahnya yang mencari nafkah sebagai nelayan hilang entah ke mana saat beliau pergi melaut. Tidak ada kabar apapun.
            Mungkin ia tak tahu apa-apa karena waktu ia masih kecil. Dan sekarang ia tinggal bersama ibu dan kakaknya.
            Namun Tuhan punya rencana lain untuk menunjukkan cintaNya pada anak itu. Di usianya yang enam tahun, lagi-lagi ia kehilangan orang yang sangat disayanginya. Ibu, ya... ia kehilangan ibunya.
            Saat ia dan ibunya akan berkunjung ke rumah neneknya, di perjalanan sebuah truk menimpa keduanya. Tapi anak itu masih selamat.
            Ia berontak pada Tuhannya, “Mengapa aku masih selamat, sedangkan ibuku Kau ambil? Mengapa tidak sekalian aku saja?” yah... kurang lebihnya begitu.
            Sekarang ia tinggal bersama kakak dan neneknya.
            Sejak saat itu, ia hidup tidak diantara kedua orang tua. Tapi ia tetap tegar. Tak pernah ia tunjukkan sepi hidupnya tanpa orang tua. Ia ceria. Dengan tingkah lucunya yang kadang-kadang usil, sama sekali tidak menunjukkan kehidupan dia sebenarnya.
            Walaupun tanpa dukungan fisik dari orang tua, ia mencari ilmu dengan baik. Bahkan banyak prestasi yang telah diraihnya.